Definisi Konsep
Diri
Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap
pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik
pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk
hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan
fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang
merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki
dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan
keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu
pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia
tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak
bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki.
Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit
untuk diselesaikan. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan
yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai
suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat
berubah karena interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns
konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan
orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita
yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri
individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi
yang diberikan orang lain pada diri individu
Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang
dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau
evaluasi dari orang lain yang mengenal dirinya. Individu akan mengetahui
dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai
dirinya. Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain
tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam
kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya
sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain
dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan
menarik, cantik atau tidak.
Seperti yang dikemukakan Hurlock memberikan pengertian
tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya.
Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu
tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial,
emosional, aspirasi dan prestasi.
Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Sedangkan Centi mengemukakan konsep diri tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu.
Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Sedangkan Centi mengemukakan konsep diri tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu.
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam
bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil,
maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju
kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama
saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.
Dalam hal pengertian konsep diri yang masih sangat banyak
dan akan dikemukakan beberapa pendapat dari pakar atau ahli dalam ilmu
psikologi, antara lain sebagai berikut:
1.
Menurut pendapat Calhoun dan
Acoccela (1990) pengertian konsep diri adalah cara pandang individu terhadap
dirinya akan membentuk suatu konsep tentang diri sendiri. Konsep tentang diri
merupakan hal yang penting bagi kehidupan individu karena konsep diri
menentukan bagaimana individu bertindak dalam berbagai situasi.
2.
Menurut pendapat Stuart dan Sundeen,
pengertian konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain. Hal ini termasuk persepsi individu akan sifat
dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang
berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.
Penghargaan mengenai diri akan menentukan bagaimana individu akan bertindak dalam hidup. Apabila seorang individu berpikir bahwa dirinya bisa, maka individu tersebut cenderung sukses, dan bila individu tersebut berpikir bahwa dirinya gagal, maka dirinya telah menyiapkan diri untuk gagal.
Penghargaan mengenai diri akan menentukan bagaimana individu akan bertindak dalam hidup. Apabila seorang individu berpikir bahwa dirinya bisa, maka individu tersebut cenderung sukses, dan bila individu tersebut berpikir bahwa dirinya gagal, maka dirinya telah menyiapkan diri untuk gagal.
Jadi bisa dikatakan bahwa konsep diri merupakan bagian diri
yang mempengaruhi setiap aspek pengalaman, baik itu pikiran, perasaan, persepsi
dan tingkah laku individu.Singkatnya, Calhoun dan Acoccela mengartikan konsep
diri sebagai gambaran mental individu yang terdiri dari pengetahuan tentang
diri sendiri, pengharapan bagi diri sendiri dan penilaian terhadap diri
sendiri.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa konsep diri merupakan suatu hal yang sangat penting
dalam pengintegrasian kepribadian, memotivasi tingkah laku sehingga pada
akhirnya akan tercapai kesehatan mental. Konsep diri dapat didefinisikan
sebagai gambaran yang ada pada diri individu yang berisikan tentang bagaimana
individu melihat dirinya sendiri sebagai pribadi yang disebut dengan
pengetahuan diri, bagaimana individu merasa atas dirinya yang merupakan
penilaian diri sendiri serta bagaimana individu menginginkan diri sendiri
sebagai manusia yang diharapkan.
Perkembangan
Konsep Diri
Konsep diri sebetulnya berkembang sejalan
dengan perkembangan aspek-aspek psikologis lainnya.Individu akan merupaya
mendefinisikan diri jika dihadapkan dengan upaya mengembangkan potensinya
sesuai dengan tuntutan tugas ddan tanggung jawab yang harus dikerjakannya,
Konsep diri tidaklah statis dan dibentruk dalam kurun waktu tertentu, melainkan bersifat dinamis dan berkembang secara terus-menerus dan bersamaan dengan perkembangan personal, emosional, sosial, kognitif, dan juga bahasa yang dijadikan dasar dalam mengekspresikan eksistensi diri individu.Lingkungan sangat berperan dalam pembentukan konsep diri, termasuk lingkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan utama dan pertama, sekolah (dalam hal ini guru), teman sebaya, orang-orang dewasa, dan juga institusi-institusi nonformal lainnya dalam lingkungan masyarakat.
Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau
herediter. Konsep diri merupakan faktor bentukan dari pengalaman individu
selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan tidak
terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara
berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa konsep diri berkembang terus
sepanjang hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri
mulai berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan
mengalami sensasi dari tubuhnya dan lingkungannya, dan individu akan mulai dapat
membedakan keduanya. Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup.
Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik yang membantu seseorang
dalam mengembangkan konsep diri yang positif.
1. Fase bayi dan
kanak-kanak
Secara kronologis, masa bayi berlangsung sejak
seorang individu mausia dilahirkan dari Rahim ibunya sampai berusia sekitar
setahun. Sedangkan masa kanak-kanak adalah masa perkembangan berikutnya, yakni
dari usia setahun hingga usia sekitar lima tahun.
Perkembangan biologis pada masa-masa ini
berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh
lingkungan keluarganya.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara
lain:
·
Belajar memakan makanan keras
·
Belajar berdiri dan berjalan
·
Belajar
berbicara
·
Belajar membaca
·
Belajar
membedakan antara hal-hal yang baik dengan yang buruk
2. Fase anak-anak
Masa anak-anak berlangsung antara usia 6-12
tahun dengan ciri-ciri seperti: memiliki dorongan untuk keluar dari rumah dan
memasuki kelompok sebaya, dan keadaan fisik yang mendorong anak memasuki dunia
permainan.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara
lain:
·
Belajar bergaul
dengan teman-teman sebaya sesuai dengan etika moral yang berlaku di
masyarakatnya.
·
Belajar
memainkan peran sebagai seorang pria (jika seorang pria) dan sebagai seorang
wanita (jika seorang wanita).
·
Mengembangkan
dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, dan berhitung.
3. Fase remaja
Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya
berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 pada wanita dan
13-22 tahun pada pria. Masa perkambangan remaja yang panjang ini dikenal sebgai
masa ynag penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja sendiri
melainkan juga bagi orang tua, guru, dan masyarakat sekitar.
Mengapa demikian? Karena individu remaja sedang
berada di persimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara
lain:
·
Mencapai pola
hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin.
·
Mulai menjadi
dirinya sendiri.
·
Mempersiapkan
diri untuk mencapai karier.
·
Mempersiapkan
diri untuk memasuki dunia perkawinan.
4. Fase dewasa
Masa dewasa berlangsung sekitar usia 21-40
tahun. Sebelum memasuki masa ini seorang remaja terlebih dahulu berada pada
tahap ambang dewasa atau masa remaja akhir yang lazimnya berlangsung 21 atau 22
tahun.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara
lain:
·
Mulai bekerja
mencari nafkah
·
Memilih teman
atau pasangan hidup berumah tangga
·
Mulai memasuki
kehidupan berumah tangga
·
Belajar hidup
bersama pasangan dalam rumah tangga
·
Membesarkan
anak-anak.
5. Fase setengah
baya
Masa setengah baya berlangsung antara usia
40-60 tahun.Konon dikalangan tertentu, pria dan wanita yang sudah menginjak
usia 40 tahun ke atas sering dijuluki sebagai orang yang sedang mengalami masa
pubertas kedua. Julukan ini timbul karena mereka senang lagi bersolek, suka
bersikap dan bahkan jatuh cinta lagi.
Dikalangan kaum wanita biasanya tampak gejala
depresi, cepat tersinngung, cemas, dan kawatir kehilangan kasih saying
anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Selain itu, wanita setengah baya ini juga
sering merasa cemas akan kehilangan suami karena menopause yang pada umumnya
diiringi dengan timbulnya tanda-tanda ketuan di bagian tertentu pda tubuhnya.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara
lain:
·
Mencapai
tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan secara lebih dewasa
·
Membantu
anak-anak agar berkembang menjadi orang-orang dewasa yang bahagia.
·
Menerima dan
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan psikologis yang lazim terjadi pada
masa setengah baya.
6. Fase usia tua
Masa tua adalah fase terakhir kehidupan
manusia.Masa ini berlangsung antara usia 60 tahun sampai berhembusnya napas
terakhir.mereka yang sudah menginjak umur 60 tahun ke atas dalam istilah
psikologi disebut “senescence” (masa tua) biasanya ditandai oleh perubahan-perubahan
kemampuan motoric yang semakin merosot.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara
lain:
·
Menyesuaikan
diri dengan keadaan pension dan
berkurangnya penghasilan.
·
Membina
pengaturan jasmani sedemikian rupa agar memuaskan dan sesuai dengan
kebutuhannya.
Pengaruh Konsep
Diri terhadap Prestasi Belajar
Prestasi
belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena
kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari
proses belajar. Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh
siswa selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai
faktor yang saling berkaitan.
a)
Fisiologis
(Jasmani)
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan
yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat
jasmani dan sebagainya. Hal tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam
menerima materi pelajaran.
Keletihan fisik pada siswa berpengaruh juga
dalam prestasi belajarnya. Menurut Cross dalam bukunya The Psychology of
Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam faktor, yaitu:
1. Keletihan indra
siswa
Keletihan indera dalam hal ini, lebih mudah
dihilangkan dengan cara istirahat yang cukup, tidur dengan nyenyak, dsb.
2. Keletihan fisik
siswa
Keletihan fisik siswa berkesinambungan dengan
keletihan indera siswa, yakni cara menghilangkannya relative lebih mudah, salah
satunya dengan cara mengkonsumsi makanan
dan minuman yang bergizi, menciptakan pola makan yang teratur, merelaksasikan
otot-otot yang tegang.
3. Keletihan mental siswa
Keletihan mental siswa ini dipandang sebagai
faktor utama penyebab adanya kejenuhan dalam belajar, sehingga cara mengatasi
keletihannya pun cukup sulit. Penyebab timbulnya keletihan mental ini
diakibatkan karena kecemasan siswa terhadap dampak yang ditimbulkan oleh
keletihan itu sendiri, kecemasan siswa terhadap standar nilai pada pelajaran
yang dianggap terlalu tinggi, dan kecemasan siswa ketika berada pada keadaan
yang ketat dan menuntut kerja intelek yang berat.
b) Psikologis
Setiap individu peserta didik, pada dasarnya
memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi
hasil belajarnya. Beberapa pengaruh psikologis meliputi :
a. a Intelegensi/ Kecerdasan
a. a Intelegensi/ Kecerdasan
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai
kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi
rendahnya intelegensi yang normal, selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan
tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh
kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya,
sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan
yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Maka Slameto-pun
mengatakan bahwa tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada
yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.Jika siswa mengalami tingkat
intelegensi yang rendah, siswa tidak dapat mencerna pelajaran dengan baik, dia akan mendapatkan kesulitan
dalam belajarnya. Adapun makna dari kesulitan belajar itu sendiri, yaitu anak-anak ataupun remaja yang mengalami
kesulitan belajar (learning disability) memiliki intelegensi normal ataupun
diatas rata-rata namun mengalami kesulitan setidaknya satu mata pelajaran. Konsep umum dalam kesulitan belajar meliputi
masalah dalam mendengarkan, konsenterasi, berbicara, dan berfikir (Raymon,2004).Berdasarkan
ketentuan remaja tidak dinyatakan mengalami masalah akademis. (Frances dkk.,
2005).
Dan dari
kesulitan belajar inilah maka akan terjadi kejenuhan dalam belajar. Kejenuhan
dapat diartikan padat atau jenuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun.Dan
jenuh dapat diartikan dengan bosan. Kejenuhan belajar adalah rentang waktu
tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak membuahkan hasil (Reber,
1988).
Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar
merasa seakan-akan pengetahuan yang diperoleh dan kecakapan yang di peroleh
tidak ada kemajuan. Seorang siswa yang sedang mengalami kejenuhan ini sistem
akalnya tidak akan bekerja dengan baik seperti sebagaimana yang diharapkan.
Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi.
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenal beberapa kegiatan.Kegiatan yang dimiliki seseorang
diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.Slameto
mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan
terus yang disertai dengan rasa kasih sayang.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri.
b. Bakat
Bakat adalah
kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan.
Pernyataan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto
bahwa bakat dalam hal ini lebih dekat
pengertiannya dengan kata attitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai
kesanggupan-kesanggupan tertentu. Tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang
sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat
mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam
proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting
dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat
yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan
sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
c. Motivasi
Mendorong
keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan
keadaan yang belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat
ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik
akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.
2.4 Kolerasi Konsep
Diri dan Prestasi Belajar
Sejumlah ahli
psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi beljar
mempunyai hubungan yang erat.Nylor (1972) mengemukakan bahwa banyak peneliti
yang membuktikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi
belajar disekolah.Siswa yang memiliki konsep diri positif, memperlihatkan
prestasi yang baik di sekolah, atau siswa tersebut memiliki penilaian diri yang
tinggi serta menunjukkan antar pribadi yang positif pula.
Walsh (dalam
Burns, 1982) siswa-siswa yang tergolong underchiver mempunyai konsep diri yang
negative, serta memperlihatkan beberapa karakteristik kepribadian:
1) Mempunyai perasaan dikeritik, ditolak, dan
diisolir.
2) Melakukan mekanisme pertahanan diri dengan cara
menghindar dan bahkan bersikap menentang.
3) Tidak mampu mengekspresikan perasaan dan
perilaku.
Konsep diri
mempengaruhi perilaku peserta didik dan mempunyai hubungan yang sangat
menentukan proses pendidikan dan prestasi belajar mereka.Peserta didik
mengalami masalah disekolah pada umumnya menunjukkan tingkat konsep diri yang
rendah, oleh sebab itu dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan guru
sebaiknya melakukan upaya-upaya yang memungkinkan terjadinya peningkatan konsep
diri peserta didik:
1) Membuat siswa merasa mendapat dukungan dari
guru.Dalam mengembangkan konsep diri yang positif, siswa perlu mendapat
dukungan dari guru.Seperti dukungan emosional, pemberian penghargaan, dan
dorongan untuk maju.
2) Membuat siswa merasa bertanggung jawab memberi
kesempatan terhadap siswa untuk membuat keputusan sendiri atas perilakunya
dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberi tanggung jawab terhadap siswa.
3) Mebuat siswa merasa mampu. Ini dapat dilakukan
dengan cara menunjukkan sikap dan pandangan yang positif terhadap kemampuan
yang dimiliki siswa.
4) Mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan yang
realistis. Dalam upaya meningkatkan konsep diri siswa, guru harus menetapkan
tujuan yang hendak dicapai serealistis mungkin, yakni tujuan yang sesuai dengan
tujuan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
5) Membantu siswa menilai dirinya secara
realistis. Pada saat mengalami kegagalan, adakalanya siswa menilai secara
negative, dengan memandang dirinya sebagai orang yang tidak mampu.
6) Mendorong siswa agar bangga dengan dirinya
secara realistis. Upaya lain yang harus dilakukan guru dalam membantu
mengembangkan konsep diri peserta didik adalah dengan memberikan dukungan dan
dorongan agar mereka bangga dengan prestasi yang telah dicapai.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar