Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses
belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat
didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam
merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori
belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang
pada dasarnya menitik beratkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses
pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses
perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta
pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain,
pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat
belajar dengan baik. Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang
mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda.
Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan
menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek
kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta
keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran
ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan
pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara
pengajar dengan peserta didik. Pembelajaran yang berkualitas sangat
tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar
yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu
memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian
target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan
kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik,
ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat
peserta didik lebih mudah mencapai target belajar. Anda telah melihat individu mengalami
pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam
cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan
saya rasa mayoritas dari Anda) telah "belajar" dalam suatu tahap
dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa
pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan
merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari
caranya berperilaku sebelumnya.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar
belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah :
1.
Apa pengertian teori behaviorime?
2.
Siapa tokoh-tokoh teori behaviorime?
3.
Apa pengertian teori kognitif?
4.
Siapa saja tokoh-tokoh teori kognitif?
5.
Apa pengertian teori humansitik?
6.
Siapa saja tokoh teori humanistic?
7.
Apa pengertian teori konstruktivisme?
8.
Siapa saja tokoh-tokoh teori konstrultivisme?
C.
Tujuan Penulisan.
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah :
1.
Mampu melaksanakan aplikasi teori belajar
behaviorisme.
2.
Mampu merancang metode pembelajaran berdasarkan
teori rekonstruktivisme.
3.
Mampu mendemonstrasikan metode pembelajaran
berdasarkan teori rekonstruktivisme.
4.
Mampu menyimpulkan teori belajar kognitif.
5.
Mampu menjelaskan teori humanistic.
PEMBAHASAN
1. Pengertian Teori Belajar
Behaviorisme
Behavior
dalam psikologi atau juga disebut behaviorisme adalah teori pembelajaran yang
didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisisan lingkungan. Pengkondisian terjadi melalui interaksi dengan
lingkungan. Teori ini dapat dipelajari secara sistematis dan dapat diamati
dengan tidak mempertimbangkan dari seluruh keadaan mental.
Behaviorisme
atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan
organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap
sebagai perilaku.Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat
digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau pikiran. Menurut teori belajar tingkah laku,
belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang telah dikatakan sudah mengalami proses
belajar jika telah mampu bertingkah laku dengan cara baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus yang berupa proses dan materi pembelajaran dengan
respon atau tanggapan yang diberikan oleh pebelajar. Misalnya; seorang pelajar
belum dapat dikatakan berhasil dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial jika dia
belum bisa/tidak mau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial di
masyarakat, seperti; ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemilu, kerja
bakti, ronda dll Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon)
harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab
pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya
perubahan tingkah laku tersebut.
2. Tokoh-tokoh dalam Teori Behaviorisme
a) Ivan Petrovich
Pavlov
Classic
conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan
stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku
(respons). Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya
sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan
seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa
yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun
bicara, melainkan tingkah lakunya.
b) John Watson
Watson
menyatakan bahwa hanya tingkah laku yang teramati saja yang dapat dipelajari
dengan valid dan reliable.Dengan demikian stimulus dan respon harus berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati (observable).Watson berpendapat bahwa
introspeksi merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya.Alasannya adalah jika
psikologi dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan
diukur. Watson mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari
apa yang dilakukan manusia (perilaku mereka) memungkinkan psikologi menjadi
ilmu yang objektif. Watson menolak pikiran sebagai subjek dalam psikologi
dan mempertahankan pelaku sebagai subjek psikologi. Khususnya perilaku yang
observabel atau yang berpotensi untuk dapat diamati dengan berbagai cara baik
pada aktivitas manusia dan hewan. 3 prinsip dalam aliran behaviorisme:
1) Menekankan respon terkondisi sebagai
elemen atau pembangun pelaku. Kondisi adalah lingkungan external yang hadir
dikehidupan.Perilaku muncul sebagai respon dari kondisi yang mengelilingi manusia
dan hewan.
2) Perilaku adalah dipelajari sebagai
konsekuensi dari pengaruh lingkungan maka sesungguhnya perilaku terbentuk
karena dipelajari. Lingkungan terdiri dari pengalaman baik masa lalu dan yang
baru saja, materi fisik dan sosial. Lingkungan yang akan memberikan contoh dan
individu akan belajar dari semua itu.
3) Memusatkan pada perilaku hewan.
Manusia dan hewan sama, jadi mempelajari perilaku hewan dapat digunakan untuk
menjelaskan perilaku manusia.
c) Edward Lee Thorndike
Dalam
bukunya Animal Intelligence (1911) ia menyangkal pendapat bahwa hewan
memecahkan masalah dengan nalurinya. Ia justru berpendapat bahwa hewan juga
memiliki kecerdasan. Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa
terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus
(S) dengan respon (R ). Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap
melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta
didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat
berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak
dapat diamati.
3. Aplikasi teori behavioristik dalam
kegiatan pembelajaran
Aplikasi teori behavioristik dalam
kegiatan pembelajaran yaitu karena memandang pengetahuan adalah objektif,
pasti, tetap dan tidak berubah pengetahuan disusun dengan rapi sehingga
belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowladge) kepada orang yang belajar.
Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada
melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilih, sehingga makna yang
dihasilkan dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik
struktur pengetahuan tersebut.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut
teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus
dan output yang berupa respon. Aliran psikologi belajar yang sangat besar
pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan
pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada
terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.Teori behavioristik
dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar
sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan
metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila
diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
4. Kekurangan dan Kelebihan Teori
Behaviorisme
Kekurangan :
Ø Pembelajaran peserta didik hanya
perpusat pada guru.
Peserta
didik hanya mendapatkan pembelajaran berdasarkan apa yang diberikan guru.
Mereka tidak diajarkan untuk berkreasi sesuai dengan perkembangannya.
Peserta didik cenderung pasif dan bosan.
Ø Peserta didik hanya mendengarkan
dengan tertib penjelasan guru. Pembelajaran seperti bisa dikatakan pembelajaran
model kuno karena menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara
belajar yang efektif. Penggunaan hukuman biasanya sebagai salah satu cara untuk
mendisiplinkan.
Ø Peserta didik tidak bebas berkreasi
dan berimajinasi. Karena menurut teori ini belajar merupakan proses pembentukan
yang membawa peserta didik untuk mencapai target tertentu. Apabila teori ini
diterapkan terus menerus tanpa ada cara belajar lain, maka bisa dipastikan
mereka akan tertekan, tidak menyukai guru dan bahkan malas belajar.
Kelebihan :
Ø Sangat cocok untuk memperoleh
kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan. Dengan bimbingan yang
diberikan secara terus menerus akan membuat peserta didik paham sehingga
mereka bisa menerapkannya dengan baik.
Ø Materi yang diberikan sangat detail
Hal ini adalah proses memasukkan stimulus yang yang dianggap tepat. Dengan
banyaknya pengetahuan yang diberikan, diharapkan peserta didik memahami dan
mampu mengikuti setiap pembelajarannya.
Ø Membangun konsentrasi pikiran Dalam
teori ini adanya penguatan dan hukuman dirasa perlu. Penguatan ini akan
membantu mengaktifkan siswa untuk memperkuat munculnya respon. Hukuman yang
diberikan adalah yang sifatnya membangun sehingga peserta didik mampu
berkonsentrai dengan baik.
B. Teori Belajar Kognitif.
1. Pengertian Teori Belajar Kognitif.
Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting dari sains
kognitif yang telah memberi kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan
psikologi pendidikan. Sains kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri
atas : psikologi kognitif, ilmu-ilmu computer, linguistic, intelegensi buatan,
matematika, epistimologi, dan neuropsycology (psikologi syaraf).
Pendekatan
psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental
manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak
tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti :
motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya.
2. Tokoh-Tokoh Teori Belajar Kognitif.
a) Cognitive Field (Kurt Lewin)
Teori belajar cognitive field
menitikberatkan perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial, karena pada
hakikatnya masing-masing individu berada didalam suatu medan kekuatan, yang
bersifat psikologis, yang disebut life space. Life space mencakup
perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya orang yang dijumpai,
fungsi kejiwaan yang dimiliki, dan objek material yang dihadapi.
Jadi,
tingkah laku merupakan hasil interaksi antarkekuatan, baik yang berasal dari
individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang berasal dari
luar diri individu, seperti tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Menurut
teori ini, berlajar itu langsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur
kognitif.
Perubahan struktur kognitif itu
adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu yang berasal dari struktur
medan kognitif itu sendiri dan yang lainnya berasal dari kebutuhan dan motivasi
internal individu. Dengan demikian, peranan motivasi jauh lebih penting
daripada reward atau hadiah.
b) Cognitive Development (Piaget)
Dalam
teori ini, Piaget memandang bahwa proses berfikir merupakan aktiitas gradual
dari fungsi intelektual, yaitu dari berfikir konkret menuju abstrak. Berarti
perkembangan kapasitas mental memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak
ada.
Perkembangan
intelektual adalah kualitatif, bukan kuantitatif. Inteligensi itu terdiri dari
tiga aspek, yaitu :
1) Struktur atau scheme ialah
pola tingkah laku yang dapat diulang.
2) Isi atau content ialah pola
tingkah laku spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah.
3) Fungsi atau function adalah
yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual.
Organisasi
berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses fisik dan psikis dalam bentuk
sistem yang koheren, sedangkan adaptasi adalah kemampuan seseorang dalam
menyesuaikan dengan lingkungan. Jadi perkembangn kognitif tergantung pada
akomodasi. Oleh karena itu, siswa harus diberikan suatu areal yang belum
diketahui, agar ia dapat belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan
mengadakan usaha-usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang
akan mempermudah perkembangan kognitif.
c) Teori Benyamin S.Bloom
Benyamin
S.Bloom telah mengembangkan “taksonomi” untuk domain kognitif. Taksonomi adalah
metode untuk membuat urutan pemikiran dari tahap dasar ke arah yang lebih
tinggi dari kegiatan mental, dengan enam tahap sebagai berikut :
1) Pengetahuan (knowledge) ialah kemampuan untuk
menghafal, mengingat atau mengulangi informasi yang pernah diberikan.
2) Pemahaman (comprehension)
ialah kemampuan untuk menginterpretasi atau mengulang informasi dengan
menggunakan bahasa sendiri.
3) Aplikasi (application) ialah
kemampuan menggunakan informasi, teori, dan aturan pada situasi baru.
4) Analisis (analysis) ialah
kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks, dan mengenai bagian-bagian serta
hubungannya.
5) Sintesis adalah kemampuan
mengumpulkan komponen yang sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru.
6) Evaluasi adalah kemampuan membuat
pemikiran berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
C.
Teori Belajar
dari Psikolgi Humanistis
1.
Orientasi
Perhatian psikologi humanistic yang terutama tertuju pada masalah
bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud
pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Menurut para pendidik aliran humanistis penyusunan dan penyajian materi
pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1997, p.148)
2.
Awal Timbulnya
Psikologi Humanistis
Pada akhir tahun 1940-1n muncullah suatu perpektif psikologi baru.
Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam
perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial,
dan konselor, bukan merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar.
Gerakan ini berkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi humanistis,
eksestransial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk
memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat
(observer).
Dalam dunia pendidikan, aliran humanistis muncul pada tahun 1960
sampai dengan 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi
selama dua decade yang terakhir pada abad ke-20 ini pun juga akan menuju pada
arh ini. (John Jarolimak dan Clifford D.Foster, 1976, hal.330).
3.
Tokoh-Tokoh Teori
Belajar Humanistis
Ada
beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistis seperti: Combs, Maslov dan
Rogers
a)
Combs
Combs
dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang
kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin
mengubah keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan
seseorang dari yang lain. Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa
perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang
untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila
seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan
sesuatu, ini sesungguhnya berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi
untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu
memberikan aktivitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi
yang positif.
b)
Maslov
Teori didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal :
1)
Suatu usaha
yang positif untuk berkembang
2)
Kekuatan untu
melawan atau menolak perkembangan itu (Maslov, 1968)
Pada diri masing-maisng rang mempunyai berbagai perasaan takut
seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil
kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi
mendorong untuk maju kea rah keutuhan, keunikan diri, kea arah berfungsinya
semua kemampuan, kea rah kepercayaan diri mengahadapi dunia luar dan pada saat
itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).
c)
Rogers
Dalam
bukunya “Freedom to Learn”, ia menunjukkan sebuah prinsip-prinsip belajar
humanistic yang penting, diantaranya ialah :
1)
Manusia itu
mempunyai kemampuanuntuk belajar secara alami.
2)
Belajar yang
signifikan terjadi apabila subject matter dirasakan murid mempunyai relevansi
dengan maksud-maksudnya sendiri.
3)
Belajar yang
menyangkut suatu perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri, dianggap
mengancam dan cenderung unutk ditolaknya.
4)
Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan untuk diasimilasikan
apabila ancaman-ancaman dari luar itu semkain kecil
5)
Apabila ancaman
terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara
yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6)
Belajar yang
bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7)
Belajar
diperlanacar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
beertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
8)
Belajar atas
inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun
intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
9)
Kepercyaaa
terhadap diri sendiri, kemerdekaan,
kreatifitas lebih mudah dicapai apabila terutama siswa dibiasakan untuk mawas
diri dan mengeritik dirinya sendirinya dan penilaian diri orang lain merupakan
cara kedua yang penting.
10)
Belajar yang
paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai
proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan
pnyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenal proses perubahan itu.
D.
Teori Belajar
Konstruktivisme
1. Orientasi
Belajar
menurut konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan
pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pngertian yang sudah
dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan.
Teori Konstruktivisme didefinisikan
sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu
makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami
hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus
respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia
membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya
sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan
yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan
dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai
pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Menurut teori ini, satu prinsip yang
mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun
siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya.
Dalam hal ini, guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan membri
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide – ide mereka
sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi
mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang
membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa
sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata mereka sendiri.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan,
bahwa makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana
peserta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa yang mereka
pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan
kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky, 1992).
2.
Proses
Mengkonstruksi Pengetahuan
Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan
inderanya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungannya, misalnya dengan
melihat, mendengar,menjamah, mambau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui
sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan melainkan sesuatu
proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan
lingkungannya, pengetahuan dan pemahamannya akan objek dan lingkungan tersebut
akan meningkat dan lebih rinci.
a) Karakter Manusia
Masa Depan
Upaya membangun sumber daya manusia
ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang
dikehendaki. Karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki tersebut adalah
manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap
resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui
proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri
sendiri yaitu suatu proses … (to) learn to be. Mampu
melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi
kelestarian dan kejayaan bangsanya (Raka Joni, 1990).
Kepekaan, bearti ketajaman baik
dalam arti kemampuan berpikirnya, maupun kemudah tersentuhan hati nurani di
dalam melihat dan merasakan segala sesuatu, mulai dari kepentingan orang lain
sampai dengan kelestarian lingkungan yang merupakan gubahan Sang Pencipta.
Kemandirian, berarti kemampuan menilai proses dan hasil berfikir sendiri di
samping proses dan hasil berfikir orang lain, serta keberanian bertindak sesuai
dengan apa yang dianggapnya benar dan perlu. Tanggung jawab, berarti kesediaan
untuk menerima segala konsekuensi keputusan serta tindakan sendiri. Kolaborasi,
bearti disamping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri, individu
dengan ciri-ciri diatas juga mampu bekerja sama dengan individu lainnya dalam
meningkatkan mutu kehidupan bersama.
Langkah strategis bagi perwujudan
tujuan diatas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan
berdaya guna tinggi. Student active learning atau
pendekatan cara belajar siswa aktif didalam pengelolaan kegiatan belajar
mengajar yang mengakui sentralitas peranan siswa didalam proses belajar, adalah
landasan yang kokoh bagi terbentuknya manusia-manusia masa depan yang
diharapkan. Pilihan tersebut bertolak dari kajian-kajian kritikal dan empirik
disamping pilihan masyarakat (Raka Joni, 1990)
Penerapan ajaran tut wuri handayani merupakan wujud nyata yang
bermakna bagi manusia masa kini dalam rangka menjemput masa depan. Untuk
melaksanakannya diperlukan penanganan yang memberikan perhatian terhadap aspek
strategis pendekatan yang tepat memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia
masa depan yang memiliki karakteristik diatas. Kajian terhadap teori belajar
konstruktivistik dalam kegiatan belajar dan pembelajaran memungkinkan menuju
kepada tujuan tersebut.
b) Tujuan dan Karakteristik Teori Konstruktivisme
Tujuan teori konstruktivisme adalah:
Ø Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan
pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
Ø Membantu siswa untuk mengembangkan perngertian
dan pemahaman konsep secara lengkap.
Ø Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi
pemikir yang mandiri. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar
itu.
Karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:
Ø Memberi peluang kepada pembelajar untuk membina
pengetahuan baru melalu keterlibatannya dalam dunia sebenarnya.
Ø Mendorong ide-ide pembelajar sebagai panduan
merancang pengetahuan.
Ø Mendukung pembelajaran secara kooperatif.
Ø Mendorong dan menerima usaha dan hasil yang
diperoleh pembelajar.
Ø Mendorong pembelajar untuk bertanya atau
berdialog dengan guru.
Ø Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses
yang sama penting dengan hasil pembelajaran
Ø Mendorong proses inkuiri pembelajar melalui
kajian dan eksperimen.
3.
Tokoh-Tokoh
Teori Belajar Konstruktivisme
Ada
beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran Konstruktivisme yaitu :
a)
Driver dan
Bell
Driver
dan Bell mengajukan karakteristik sebagai berikut :
Ø siswa tidak
dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,
Ø belajar mempertimbangkan
seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa,
Ø pengetahuan bukan
sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal,
Ø pembelajaran
bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas,
Ø kurikulum bukanlah
sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
b) J.J.
Piaget
Berikut
adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual
atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental,
sebagai berikut :
Ø perkembangan
intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan
urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan
tersebut dan dengan urutan yang sama,
Ø tahap-tahap tersebut
didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan,
pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual,
Ø gerak melalui
tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses
pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi)
dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
c)
Tasker
Tasker
Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar
konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat
kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah
mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima
4.
Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivisme
Lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran
yang konstruktivis sebagai berikut:
a) Memerhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal
siswa
Siswa didorong untuk mengonstruksi pengetahuan
baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Pembelajaran
harus memerhatikan pengetahuan siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk
mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
b) Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Dirancang pembelajaran yang bermakna bagi siswa
sehingga dapat mengakomodasi perkembangan minat, bakat, sikap, dan kebutuhan
belajar siswa. Dengan mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
c) Adanya lingkungan sosial yang kondusif
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi
secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru.
d) Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
Siswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap
proses belajarnya, diberikan kesempatan untuk merefleksi dan mengatur kegiatan
belajarnya.
e) Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang
dunia ilmiah
Sains bukan berupa produk (fakta, konsep,
prinsip, dan teori) namun juga sikap dan proses. Pembelajaran sains harus bisa
melatih dan memperkenalkan siswa tentang kehidupan ilmuwan.
5.
Kelebihan dan Kekurangan Teori
Konstruktivisme
Kelebihan :
a)
Pembelajaran konstruktivistik
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit
dengan menggunakan bahasa siswa sendiri.
b)
Pembelajaran konstruktivistik
memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa
sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang
fenomena yang menantang siswa.
c)
Pembelajaran konstruktivistik
memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat
mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model
dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.
d)
Pembelajaran konstruktivistik
memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong
untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks.
e)
Pembelajaran konstruktivistik
mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari
kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan
gagasan mereka.
f) Pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang
kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan
menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
Kelemahan :
a)
Siswa mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok
dengan hasil konstruksi para ahli sehingga menyebabkan miskonsepsi.
b)
Konstruktivistik menanamkan agar
siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang
lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
c)
Situasi dan kondisi tiap sekolah
tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat
membantu keaktifan dan kreativitas siswa.
PENUTUP
A. Simpulan.
1.
Menuurut teori belajar behaviorisme,
belajar didefinisikan sebagai perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari
interaksi antara stimulus dan respon. Dimana perubahan tingkah laku tersebut
tergantung pada konsekuensi. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan
pembelajaran yaitu karena memandang pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap
dan tidak berubah
2.
Teori psikologi kognitif adalah bagian
terpenting dari sains kognitif yang telah memberi kontribusi yang sangat berarti
dalam perkembangan psikologi pendidikan. Sains kognitif merupakan himpunan
disiplin yang terdiri atas : psikologi kognitif, ilmu-ilmu computer,
linguistic, intelegensi buatan, matematika, epistimologi, dan neuropsycology
(psikologi syaraf).
3.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1997, p.148)
4.
Belajar
menurut konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan
pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pngertian yang sudah
dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar