A. Definisi Kreativitas
Menurut James J. Gallagher (1985) mengatakan bahwa Kreativitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru, atau mengombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya.
Menurut Clarkl Monstakis mengatakan bahwa kreativitas merupakan pengalaman dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu antara hubungan diri sendiri, alam, dan orang lain. Menurut Chaplin kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni, atau dalam permesinan atau dalam memecahkan masalah-masalah dengan metode-metode baru[1].
Dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu proses mental individu yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang efektif yang bersifat imanjinatif, dan estetis yang guna dalam berbagai bidang untuk pemecahan suatu masalah. Terdapat delapan arti kreativitas juga yang populer, yaitu[2] :
1.
Suatu perbuatan
yang menekankan pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda.
2.
Kreasi sesuatu
yang baru dan original secara kebetulan.
3.
Apa saja yang
diciptakan selalu baru dan berbeda dari yang telah ada dan karenanya unik.
4.
Proses mental
yang unik, suatu proses yang semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu
yang baru, berbeda, dan original.
5.
Kretivitas yang
seringkali dianggap sinonim dengan kecerdasan tinggi.
6.
Sepercik
kejeniusan yang diwariskan pada seseorang dan tidak ada kaitannya dengan
belajar atau orang kreatif merupakan sarana konsep.
7.
Bentuk
permainan mental yang merupakan kegiatan otak yang teratur, komprehensif,
imajinatif menuju suatu hasil yang original.
8.
Anak merupakan orang
yang kreatif atau tak kreatif, penurut atau pencipta.
Kreativitas adalah kemampuan
seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada
dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Musuh utama kreativitas
adalah wawasan yang sempit dan inspirasi yang dangkal. Teknik kreativitas itu
sendiri tidak kreatif; andalah yang kreatif. Namun, dengan menggunakan teknik
mampu mendorong seseorang ke titik awal yang berbeda, yang membantu memperoleh
pandangan yang segar, dan mendapatkan sesuatu yang benar unik dan berbeda[3].
B.
Unsur
Karakteristik Kreativitas
1.
Kreativitas
merupakan proses bukan hasil.
2.
Proses itu
mempunyai tujuan yang mendatangkan keuntungan bagi orang itu sendiri atau
kelompok sosialnya.
3.
Kreativitas
mengarah kepenciptaan suatu yang baru, berbeda, dan karenanya unik bagi orang
itu, baik itu berbentuk lisan atau tulisan, maupun konkret atau abstrak.
4.
Kretivitas
timbul dari pemikiran divergen, sedangkan konformitas dan pemecahan masalah
sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen.
5.
Kreativitas
merupakan suatu cara berpikir, tidak sinonim dengan kecerdasan, yang mencakup
kemampuan mental selain berpikir.
6.
Kemampuan untuk
menciptakan bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima.
7.
Kreativitas
merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa
bentuk prestasi, misalnya melukis, membangun dengan balok, atau melamun.
C.
Perkembangan Kreativitas
Studi-studi mengenai kreativitas
menunjujjah bahwa perkembangannya mengikuti pola yang dapat diramalkan.
Beberapa anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang menyebabkan kebekuan
kreativitas mereka pada periode ini.
1.
Periode kritis
dalam perkembangan kreativitas
a.
5 sampai 6
tahun
Sebelum anak siap memasuki sekolah mereka belajar bahwa mereka
harus menerima perintah dan meyesuaikan diri dengan peraturan dan perintah
orang dewasa di rumah dan kelak di sekolah. Semakin keras kekuasaan orang
dewasa, semakin beku kretivitas anak tersebut.
b.
8 sampai 10
tahun
Keinginan untuk diterima sebagai anggota gang mencapai puncaknya
pada usia ini. Kebanyakan anak merasa bahwa untuk dapat diterima, mereka harus
dapat menyesuikan diri dengan pola gang yang telah ditentukan dan setiap
penyimpangan membahayakan proses penerimaan.
c.
13 sampai 15
tahun
Upaya untuk memperoleh persetujuan teman sebaya, terutama dari
anggota jenis kelamin yang berlawanan, mengendalikan pola perilaku anak remaja.
Seperti halnya anak yang berada pada usia-gang, remaja menyesuaikan dirinya
dengan harapan untuk mendapatkan persetujuan dan penerimaan.
d.
17 sampai 19
tahun
Pada usia ini upaya untuk memperoleh persetujuan dan penerimaan,
dan juga latihan untuk pekerjaan yang dipilih, mungkin akan mengekang
kretivitas. Apabila pekerjaan menuntut konformitas dengan pola standar serta
keharusan mengikuti perintah dan peraturan tertentu, sebagaimana halnya dengan
kebanyakan pekerjaan rutin, hal itu akan membekukan kreativitas.
D.
Upaya membantu
mengembangkan kreativitas dan implikasinya dalam pendidikan
1. Torrance
Menanamkan relasi bantuan dengan istilah “creative relationship”
yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
• Pembimbing berusaha memahami pikiran dan perasaan anak
• Pebimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasannya tanpa
mengalami hambatan
• Pebimbing lebih menekan pada proses daripada hasil hingga pebimbing
dituntut untuk mampu memandang permasalahan anak
• Pebimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan atau
nilai-nilai tertentu pada anak.
2.
Dedi supriadi
Mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing
perkembangan anak-anak kreatif,yaitu:
• Menciptakan rasa aman kepada anak
untuk mengekspresikan kreativitasnya
• Mengakui dan menghargai gagasan anak
• Menjadi pendorong bagi anak untuk mengkombinasikan dan mewujudkan
gagasan-gagasannya
• Memberikan peluang untuk
mengkomunikasikan gagasan-gagasannya
• Memberikan informasi mengenai peluang yang tersedia.
E.
Strategi untuk meningkatkan kreativitas di kelas menurut
Jeanne Ellis Ormrod dalam buku Psikologi Pendidikan diantaranya adalah:
1.
Tunjukkan kepada siswa bahwa kreativitas itu dihargai. Caranya ialah:
- Mendorong dan memberi penghargaan (reward) terhadap ide-ide dan respons-respons yang tidak biasa. Misalnya guru mengekspresikan kegembiraan ketika siswa menyelesaikan suatu proyek dengan cara yang unik dan kreatif.
- Ikut terlibat bersama siswa dalam aktivitas-aktivitas kreatif (B.A Hennessey & Amabile, 1987; Lubart & Mouchiround, 2003; Runco, 2004; Sternberg, 2003).
2.
Fokuskan perhatian siswa pada penghargaan internal
daripada penghargaan eksternal
Para
siswa akan lebih kreatif ketika mereka terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang
mereka senangi dan dapat merasa bangga dengan apa yang sedang mereka kerjakan.
(B.A Hennessey, 1995;Lubart& Mouchiround, 2003)
3.
Doronglah siswa menguasai suatu area mata pelajaran
Kreativitas pada suatu area pelajaran tertentu lebih mungkin terjadi ketika
siswa benar-benar menguasai suatu topik. (Amabile & Hennessey, 1992;
Haskell, 2001; Simonton, 2000)
4. Berikan pertanyaan yang
mengasah pikiran
Siswa lebih mudah berpikir kreatif ketika kita
menanyakan pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi yaitu pertanyaan yang
mengharuskan mereka menggunakan informasi yang telah dipelajari
sebelumnya dengan cara yang baru.
5. Berikan siswa kebebasan dan rasa aman yang
dibutuhkan untuk mengambil risiko
Supaya
kreatif, siswa harus berani mengambil risiko sesuatu yang tidak mungkin terjadi
jika mereka takut gagal (Houtz, 1990;Sternberg, 2003).Untuk mendorong
keberanian mengambil risiko, guru dapat mengizinkan siswa terlibat dalam suatu
kegiatan tanpa mengevaluasi performa mereka, mendorong mereka menganggap
kesalahan dan kegagalan sebagai suatu aspek yang tak terelakkan tetapi biasanya
hanya sementara dari proses kreatif (B.A. Hennessey & Amabile, 1987;
Prutit, 1989).
1.
Sediakan waktu yang memadai untuk mendorong tumbuh
kembangnya kreativitas
Siswa memerlukan waktu untuk bereksperimen dengan materi dan ide baru, untuk
berpikir divergen, dan terkadang untuk melakukan kesalahan.
F. Ciri-ciri Individu Kreatif
Sund (1975) mengatakan bahwa individu kreatif
memiliki ciri-ciri berikut:
1.
Hasrat keingintahuan yang cukup besar
2.
Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3.
Panjang akal
4.
Keinginan untuk menemukan dan meneliti
5.
Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit
6.
Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
7.
Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam
melaksanakan tugas
8.
Berfikir fleksibel
9.
Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung
memberi jawaban lebih banyak
10.
Kemampuan membuat analisis dan sintesis
11.
Memiliki semangat bertanya serta meneliti
12.
Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
13.
Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas
G.
Kondisi yang
meningkatkan kreativitas
1.
Waktu
Untuk menjadi kreatif, sesorang membutuhkan waktu yang panjang dan
bebas, agar dapat bermain-main dengan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dan
mencobanya dalam bentuk baru dan original.
2.
Kesempatan
Menyendiri
Seseorang membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk
mengembangkan kehidupan imajinatif yang kaya.
3.
Dorongan
Seseorang harus memberi dorongan atau motivasi untuk kretif dan
bebas dari ejekan dan kritik yang seringkali dilontarkan pada orang yang
kreatif.
4.
Sarana
Sarana harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimentasi
dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas.
5.
Lingkungan yang
merangsang
Lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas dengan
memberikan bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan mendorong
kreativitas, dan menjadikan kretivitas suatu pengalaman yang menyenangkan dan
diharigai secara social.
6.
Hubungan orang
tua – anak yang tidak posesif
Orang tua yang tidak terlalu posesif terhadap anak, mendorong anak
untuk mandiri dan percaya diri, dua kualitas yang sangat mendukung kreativitas.
7.
Cara mendidik
anak
Mendidik anak secara demokratis dan permisif dirumah dan sekolah
meningkatkan kreativitas sedangkan cara mendidik otoriter memadamkannya.
8.
Kesempatan
untuk memperoleh pengetahuan
Semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh, semakin baik dasar
untuk mencapai hasil yang kreatif.
H.
Taraf-taraf Ide
Kreatif
Kita juga membutuhkan
sumbangan-sumbangan pikiran kreatif yang lebih praktis. Karena itu dapat
disusun semacam daftar urutan atau taraf untuk ide-ide kita.
Pertama, penyempurnaan fungsi kalender, misalnya memperbarui penulisan
angka-angka tanggal pada kalender, supaya lebih menyatu dengan nama-nama hari,
dan sangat jelas meskipun kecil.
Kedua, meningkatkan daya tariknya, mencari desain gambar hiasan yang
lebih menarik, mungkin bisa diganti-ganti sendiri dengan yang lain secara bebas
sesuai keinginan pemiliknya.
Ketiga, memikirkan bahan, mencari bahan untuk kalender yang bukan dari
kertas.
keempat, memikirkan konsep yang sama sekali baru tentang penanggalan.
Kelima, memikirkan cara mengetahui waktu tanpa kalender.
Secara berangsur-angsur dari taraf pertama hingga terakhir, kita
menargetkan penyempurnaan produk, peningkatan pelayanan, penciptaan keunikan,
konsep yang sama sekalin baru tentang penanggalan, dan terakhir adalah cara
yang belum pernah dicoba untuk mengetahui waktu. Semua berhak untuk disebut
kreatif, hanya dibedakan dalam taraf[4].
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth B.
Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga. 1978. Ed. 6.
Rachmawati,
Yeni dan Euis Kurniati. STRATEGI PENGEMBANGAN KREATIVITAS PADA ANAK USIA
TAMAN KANAK-KANAK. Jakarta: Kencana. 2010
Chandra,
Julius. Kreativitas Bagaimana Menanami, Membangun dan Mengembangkannya.
Yogyakarta: Kanisius. 1994
Clegg,
Brian dan Paul Birch. Instant Creativity 76 Cara Instan Meningkatkan
Kreativitas Anda. Jakarta: Esensi erlangga group. 2006
[1] Yeni Rachmawati
dan Euis Kurniati, STRATEGI PENGEMBANGAN KREATIVITAS PADA ANAK USIA TAMAN
KANAK-KANAK, (Jakarta: Kencana, ed-1, 2010)
[2] Elizabeth B.
Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, ed-6, 1978)
[3] Brian Clegg dan
Paul Birch. Instant Creativity 76 Cara Instan Meningkatkan Kreativitas Anda.
(Jakarta: Esensi erlangga group. hal. 8. 2006)
[4] Julius Chandra,
Kreativitas Bagaimana Menanami, Membangun dan Mengembangkannya,
Yogyakarta: Kanisius. 1994

Tidak ada komentar:
Posting Komentar